Rabu, 09 Mei 2012

Atas Nama.

Namanya juga ketulusan, potensial sekali menimbulkan prasangka kemunafikan.
Tulusnya beneran, tapi dibilang bo'ongan.
Tulusnya bo'ongan, malah dikira beneran.
Namanya juga roda, pasti terus berputar.
Kadang diatas waktu senyum kita tiba-tiba menjadi tak terbatas,
kadang dibawah hingga pelukan menjadi sesuatu yang mewah.
Namanya juga gayung, tentu tak selamanya bersambut.
Aku mengandung rindu yang tak terbendung,
kamu memegang kuasa untuk kebersamaan yang kapan saja bisa tercabut.
Namanya juga doa, pasti dikabulkan.
Entah lama atau untuk lain kali saja.
Namanya juga kesabaran, pasti akan berujung pada sebuah keputusan.
Untuk berhenti karena kelelahan,
atau untuk melaju atas nama setia yang lugu yang seringnya kelihatan dungu.
Namanya juga manusia..
Habis manis sepahnya suka langsung buang.
Dan yah,
Namanya juga kamu..
Kalau kesepian baru cari aku.

Selasa, 08 Mei 2012

Hujan.

Dinginnya menimbulkan kenangan.
Gelapnya menciptakan kehangatan.
Bau tanahnya melahirkan ketenangan.

Karena ingatan buruk yang pernah dituliskan, kami pernah bermusuhan.
Karena air mata yang pernah diciptakan, aku pernah bakuhantam dengan kenyataan.

Namun, karena proses pendewasaan. Aku merasa perlu untuk memulai perdamaian.

Berdamai dengan kenyataan.
Dengan dingin, gelap, dan bau kedatangan hujan.


Hujan.. Hujan.. Kenangan.

Senin, 07 Mei 2012

Telepon Saja!

Saya adalah seseorang yang mudah merindukan sesuatu hanya karena mendengarkan lagu, melihat sesuatu, atau mencium aroma tertentu. Pagi ini, saya melihat seorang anak kecil di bank, berkuncir satu, bergandeng tangan dengan sang ibu. Lucu. (:
Sekejab, kuciran anak kecil tersebut membuat saya teringat seorang teman SMA bernama Sulaikah. Ani panggilannya. Ia teman satu kelas saya ketika kelas X dan XI.
Karena kedekatan kami yang biasa-biasa saja, saya hanya tau sedikit mengenai Ani. Namun, apabila diminta mendeskripsikan seorang Ani melalui skenario sinetron, Ani akan saya reflesikan sebagai tokoh Lala di sinetron Bidadari, namun Ia bahagia, dan bukan seorang anak tiri. Ia pintar, rajin, dan sederhana sekali. Atas dasar sok tahu saya, saya juga ingin mendeklarasikan Ani sebagai seorang wanita yang konservatif namun tulus hati. Orang tuanya pasti bangga dan laki-laki yang menjadi suaminya nanti pasti beruntung sekali.
Ingatan tentang Ani berujung pada usaha mencari nomer telepon Ani. Setelah mendapat nomer teleponnya dari seorang teman bernama Dessy, saya langsung menelepon Ani dengan semangat berapi-api.
Kami berbicara lumayan panjang ditelepon, Ani bilang kabarnya baik dan sekarang Ia kuliah di IKIP PGRI Madiun. Ia juga sempat bertanya mengenai sekarang saya kuliah di jurusan apa. Sebuah perbincangan yang sederhana sekali. Bahkan, tidak ada janji akan bertemu di akhir telepon tadi.
Hasil dari telepon kerinduan saya pada Ani tadi menginspirasi saya untuk tidak ragu lagi menelepon orang yang saya rindukan dikemudian hari.
Karena tahu tidak? Menelepon dan mengetahui kabar orang yang kita rindukan itu melegakan sekali.
Terimakasih. Semoga sukses disana, Ani. (:

(Ingin sekali menampilkan foto Ani, tapi facebooknya tidak teridentifikasi)

Minggu, 06 Mei 2012

Oleh-oleh Untuk Wahy

28 Maret yang lalu, saya bersama 3 orang teman satu angkatan di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM pergi dengan berbekal uang sekedarnya, satu lembar peta, dan pengetahuan minim mengenai mau apa, akan tinggal dimana, dan harus melalui jalan mana.
Semuanya terjadi seperti tanpa direncanakan.
Hingga akhirnya kami berempat sampai di seberang pulau.
Pulau Bali.

Cerita ini adalah oleh-oleh kecil untuk salah seorang teman baik saya; Wahy.


Foto yang tampak di atas merupakan oleh-oleh khusus untuk kamu.
Diambil di Dreamland Beach, Pecatu Bali.
Bergambar handphone pribadi saya yang menampilkan fotomu, berlatar belakang hamparan pantai jernih, pasir putih, dan awan yang cerah sekali.
Sayang, karena kesibukanmu, kamu tidak bisa menikmati pemandangan ini.
Kamutidak bisa ikut melarikan diri.

Wahy,
Kami menyebut perjalanan ini melarikan diri.
Entah dari mana dan dari siapa.
Tidak usah dipusingkan lah,
Setelah akhirnya lega akhirnya memberi tahu keberadaan saya pada Ibu saya sesampainya di Bali,
saya ketagihan menenggelamkan diri dilaut.
Mengambang menghadap langit, duduk diam melawan ombak, tertawa melebur dengan air garam yang masuk ke mulut, hingga matahari jatuh.
Rasanya enak sekali.
Kamu harus mencoba suatu hari nanti.

Kami juga merasakan gemetar luar biasa ketika mobil kami melawan arus ribuan manusia bermuka panik, yang meminta kami segera berbalik.
Katanya, bom akan meledak entah setelah berapa detik.

Hari terakhir,
Saya diantar Decin, Hawwin, dan Dimas menyusuri  jalanan Ubud.
Jalanan yang lenggang dan tak ada kemacetan.
Namun,
sesak oleh kenangan.

Semoga kita bisa bepergian bersama suatu hari nanti ya, Wahy (:

Jumat, 04 Mei 2012

Hati-hati Di Jalan, Ayah dan Ibu.

Kemarin,
3 Mei 2012, Ayah dan Ibu bertolak ke seberang benua untuk menghadiri acara wisuda kakak saya.
Saya dan adik pertama saya, Aswita turut mengantar ayah dan ibu hingga Bandara Juanda, Surabaya.
Ini adalah kali kedua mereka melakukan perjalanan internasional setelah tahun 1996, keduanya pergi ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.
Selain pesan hati-hati yang saya ucapkan pada mereka berulang kali, selembar kertas bertulis nama Astrini juga saya selipkan di tas Ibu untuk diambil gambarnya di setiap tempat yang akan mereka kunjungi.
Tak lupa, selalu saya panjatkan doa supaya dibawakan oleh-oleh CD OASIS, The Kooks, The Strokes, dan Blur, setelah doa agar keduanya diberkahi keselamatan hingga sampai ke tanah air kembali.


Have fun go mad, Moms and Dad.
Jangan lupa pulang. (:

Untuk Laki-laki Cancer yang Aku Rindukan

Untuk laki-laki cancer yang aku rindukan..
Selanjutnya dor! disini diartikan dengan "aku rindu kamu."

Dor!
Dor!
Dor!
Sudah seratus dua puluh hari lebih kita tidak bertemu.
Sudah seratus dua puluh hari lebih aku tidak melihat senyum hangatmu.
Aku bilang, aku hanya bisa menunggu.
Karena keputusan kita dapat bertemu hanya berada ditanganmu.

Dor!
Mengutip kata-kata seseorang tentang rindu, kamu setuju perihal puncak rindu paling dahsyat itu ketika dua orang tak saling telepon/sms/bbm dll, tapi diam-diam keduanya saling mendoakan.
Lalu, apa khabar ketika yang berdoa hanya aku?
Dan bagaimana apabila aku terus menerus tidak tahu mengenai bagaimana kepedulianmu?

Dor!
Apabila telah melampaui batas kemampuanku, biasanya aku akan tetap merindu.
Entah karena buta atau dungu,
tapi bukankah rindu memang mengenai tidak bertemu?

Untuk laki-laki cancer yang aku rindukan..
Dor!
Aku menunggu. (:

Ditulis di Bandara Juanda, Surabaya. Dengan rasa was-was posting ini dibaca oleh Wahy, Decin, atau Hawwin.

Kamis, 03 Mei 2012

Gagal Teh Tarik

Dengan diantar seorang teman, pagi tadi saya berangkat menuju Stasiun Lempuyangan untuk pulang ke kampung halaman. Setelah duduk kurang lebih 3,5 jam dikereta api ekonomi yang saya tumpangi, tibalah  saya di Stasiun Madiun. Lihaaat, Ayah saya yang setia menjemput jam berapapun apabila saya pulang kampung telah menunggu dipintu keluar. Setelah melakukan toss kami bertolak pulang.

Dirumah, Ibu sudah menunggu dengan senyuman. Siang itu, beliau pulang dari kantor lebih awal. Katanya, menunggu gudeg yang saya bawa dari perantauan. Sambil makan bersama, kami banyak bercerita seperti biasa. Siang ini topik pembicaraan adalah persiapan keberangkatan ayah dan ibu mengunjungi kakak saya di seberang benua. Berkat ketrampilan packing yang Ibu miliki, barang-barang yang hendak dibawa seperti oleh-oleh khas Indonesia seperti batik dan jajanan titipan kakak saya seperti beng-beng dan lain sebagainya telah tertata rapi dikoper. Setelah semuanya beres, Ibu baru ingat apabila ada satu hal yang terlewat, yaitu sambal sachet yang juga pesanan kakak saya. Untuk itu, ayah bergegas berangkat menuju swalayan terdekat. Siang tadi terik sekali, tak heran kalau pulang-pulang ayah membawa berbotol-botol minuman segar kesukaannya. Ia membeli banyak sekali, katanya sekalian untuk bekal besok dijalan. Panasnya udara, ditambah pemandangan berbotol-botol minuman segar yang dibawa ayah, membuat pikiran saya langsung melayang pada sosok laki-laki separuh baya, bermuka garang, dan berkulit kecoklatan; Cak'e.

Cak'e adalah pemilik sebuah warung di seputaran jalan Mangga, Madiun. Warung Cak'e ini bukan warung biasa, karena warungnya adalah satu-satunya warung di Madiun yang menjual teh tarik. Entah, saya lupa sejak kapan saya mulai kecanduan, yang jelas dan sumpah saya tidak lebay, Teh Tarik Cak'e ini merupakan teh tarik terbaik yang pernah saya minum. Teh tarik ini dibuat dengan benar-benar ditarik, rasanya begitu pas, dan pelayanan yang menyenangkan. Kurang apalagi untuk membuat saya ketagihan?

Dulu, ketika masih SMA dan punya pacar, saya tidak pernah absen mengunjungi warung cak'e setiap malam minggu. Ketika saya ngambek atau punya mau tapi tidak keturutan, mantan saya selalu tahu kemana harus membawa saya. Segelas teh tarik cukup menjadi penawar ketidak enakan hati. Haha. Murahan sekali ya saya. Tinggal sogok pakai teh tarik, semuanya akan jadi baik-baik saja.

Hingga kini, ditahun ketiga masa perkuliahan saya, Warung Cak'e mengalami perkembangan. Warungnya tidak lagi kecil dan dikunjungi orang yang itu-itu saja. Setiap pulang kampung, saya pasti menyempatkan diri untuk bertandang ke warung Cak'e. Bahkan setiap ada teman dari luar kota yang main ke Madiun, pasti saya ajak mampir juga untuk melihat proses pembuatan dan  menikmati cita rasa teh tarik yang disajikan.

Ah, menulis sedikit tentang Teh Tarik Cak'e sudah membuat Enzim Ptialin saya terstimulus untuk bereaksi secara aktif. Namun sayang, atas nama permintaan ayah saya yang ingin berkumpul bersama sebelum keberangkatannya, bayangan minum segelas teh tarik yang dari tadi mengusik harus sirna untuk sementara. Tidak apalah, toh saya rela-rela saja menunda kembali ke Jogjakarta demi menikmati segelas teh tarik malam minggu besok. Asik.

Selamat malam. Semoga mimpi minum Teh Tarik Cak'e.

Rabu, 02 Mei 2012

Marga Jaya

Bulan Februari yang lalu, saya, Wahy, dan Okta bertolak ke Lampung untuk melakukan survei lokasi KKN. Tulang Bawang Barat, sebuah kabupaten di Provinsi Lampung merupakan tempat yang kami pilih sebagai lokasi KKN kami, dimana selama 5 pekan dibulan Juli dan Agustus nanti kami akan belajar dan mengabdi kepada masyarakat dengan berpegang pada pengetahuan akademis dan ilmu sosial yang telah kami pelajari di bangku kuliah dan di kehidupan sehari-hari.

Setelah hampir 24 jam melewati perjalanan darat dan laut, akhirnya kami tiba di daerah yang disebut Unit 2, sebuah pintu gerbang dimulainya petualangan kami, dimana daerah ini merupakan tempat terakhir kami bisa menemukan mesin ATM. Pada waktu bis yang kami tumpangi tiba, Mas Ardi Wilda, atau yang lebih dikenal sebagai Mas Awe, seorang senior sangar yang sedang menjalani masa tugas Indonesia mengajarnya sekaligus perantara yang mengenalkan saya dengan Tulang Bawang Barat sudah menunggu bersama kawannya untuk menjemput kami. Setelah berbincang-bincang dan beristirahat sejenak, kami berangkat menuju tempat tinggal Mas Awe yaitu Kecamatan Gunung Agung. Sesuai bayangan dan foto-foto yang Mas Awe pernah kirimkan, jalan yang ditempuh terjal. Tanah merah, bebatuan, hutan karet di kiri dan kanan melambai-lambai, seketika menjelma menjadi  pemandangan.

Satu jam kemudian, kami tiba di rumah yang ditinggali Mas Awe. Sebuah rumah yang didominasi warna putih dan biru, sederhana, namun nyaman secara keseluruhan. Mbah Satinah sang pemilik rumah dan cucunya; Edi baik hati sekali. Hari pertama tiba, kami belum melakukan apa-apa karena kebetulan waktu itu hari Minggu, sehingga kantor-kantor yang ingin kami tuju tutup. Akhirnya, saya, Wahy, Okta, dan Mas Awe hanya merancang rencana untuk 3 hari kedepan. Berkat bantuan Mas Awe dan kawan-kawan Indonesia mengajarnya yaitu Mbak Meiske dan Mbak Acha, urusan kami dapat terselesaikan dengan baik.

Banyak hal menarik yang saya temukan diujung Provinsi Lampung ini. Salah satunya adalah sebuah sekolah dasar tempat Mas Awe mengajar di Kecamatan Gunung Agung; SD Marga Jaya, beserta anak-anak manis didalamnya. Karena hari tersebut hari Senin, saya mengikuti upacara bendera, dan itu mengasyikkan sekali.

Perbedaan besar yang saya rasakan dari jalannya upacara bendera di SD Marga Jaya dengan upacara yang saya jalani ketika saya masih sekolah di SD Endrakila Madiun adalah, dahulu, setiap Senin pemandangan wajib di sekolah saya itu adalah guru-guru dan penjaga sekolah yang sibuk lalu-lalang mempersiapkan upacara. Mulai dari papan-papan bertuliskan "Kelas 1" sampai "Kelas 6", speaker, microphone, keyboard, para petugas yang sudah dilatih, hingga tim paduan suara. Pukul 7 tepat, upacara dimulai.  Siswa-siswa yang tidak menggunakan atribut dengan lengkap dipisahkan dari barisan, membentuk barisan sendiri di sebelah kiri depan, dan semua mata bisa leluasa memandang siapa-siapa saja yang berjejer disana. Keteraturan tersebut berbanding terbalik dengan minat dan keseriusan para siswa untuk sekedar hormat ketika bendera merah putih dikibarkan, diam sejenak untuk mengheningkan cipta, apalagi menyimak apa yang dibicarakan pembina upacara. Para siswa perempuan sibuk menggosip, para siswa laki-laki entahlah sibuk melakukan apa dibarisan belakang.

Pukul 7 di SD Marga Jaya pagi itu masih lenggang dan belum terlihat persiapan apa-apa, jangankan keyboard untuk mengiringi paduan suara, satu microphone pun tak terlihat berdiri disana. Ketika upacara dimulai, masih banyak siswa yang telat dan langsung masuk barisan, banyak juga siswa yang tidak menggunakan topi atau dasi, terlepas dari beberapa siswa yang mungkin bandel dan tidak bisa diam, hal tersebut tidak menyurutkan keseriusan dan antusias para siswa untuk menyimak apa yang dibicarakan kepala sekolah sebagai pembina upacara yang dengan lantang dan berwibawa ketika memberikan sambutan. Keseriuasan tersebut dapat dilihat dari jawaban-jawaban kompak mereka ketika beberapa kali Bapak Kepala sekolah bertanya mengenai beberapa hal. Upacara diakhiri dengan acara tanam pohon dimana Wahy dan Okta menjadi bintang tamu. Haha.

Setelah acara tanam pohon, saya, Wahy, dan Okta ikut Mas Awe masuk kelas. Ketika saya melambaikan tangan dan mengajak ngobrol beberapa siswa, mereka menjawab dengan malu-malu-tapi-mau. Lucu sekali. Ketika Mas Awe mengajukan pertanyaan tentang pelajaran, para siswa berebut menjawab. Dan ketika Mas Awe mengajak melakukan tepuk, mereka semua langsung tambah bersemangat. Mata mereka bersinar ketika diberi waktu untuk bertanya mengenai cita-cita dan diberi tahu bagaimana cara menggapainya.

Saya selalu menyukai anak kecil. Dan saya senang sekali menghabiskan Senin pagi saya di SD Marga Jaya. Diantara anak-anak pembelajar yang rela berbagi buku pelajaran dengan teman, diantara anak-anak periang yang langsung berbinar matanya ketika dijanjikan belajar origami, diantara anak-anak lugu yang yang belum tersentuh www.facebook.com.


Semoga ada kesempatan untuk dapat bertemu Mitra, Ariq, Vicky, dan kawan-kawan yang lain lagi (:

Selasa, 01 Mei 2012

MEIBU.

"Apa yang kuberikan untuk Mama. Untuk Mama tersayang.

Tak kumiliki sesuatu berharga, untuk Mama tercinta".

Begitulah lirik pembuka lagu Cinta Untuk Mama, sebuah lagu lawas yang dibawakan seorang penyanyi bernama Kenny,  pernah menempati urutan pertama chart lagu anak-anak pada masa kejayaannya, dan merupakan salah satu lagu yang solmisasinya aku hafal diluar kepala.
Dalam lagu tersebut, Kenny mengungkapkan bahwa Ia hanya bisa memberikan senandung lagu sederhana dari hatinya untuk sang mama. Terlepas dari tujuan lain menyenandungkan, merekam, dan kemudian mengkomersilkan lagu tersebut, Mama Kenny pasti bangga atas apa yang putranya coba berikan melalui nada.

Tak ubahnya Kenny dan anak-anak pada umumnya, aku juga ingin memberikan sesuatu untuk ibuku. Bukan lagi kalung  biji lamtoro atau blocknotes bertulisakan "Diary of The Best Mom" hasil kerajinan tanganku sendiri sebagai hadiah ulang tahunnya, namun kebahagiaan melalui sebuah tindakan real yang nyata dan bukan hanya kata-kata. Anggaplah sebagai pengganti ucapan selamat atas kesuksesannya sejauh ini menjalankan kewajibannya serta pengganti kekaguman dan sungkem terimakasih atas persembahan serta pengabdian sepanjang nafasnya untuk mantan isi perutnya.

Enam hari dalam seminggu, Ibuku berkendara sendiri menuju tempat kerjanya yang memerlukan jarak tempuh  kurang lebih 45 menit dari rumah kami. Ia rajin berolahraga, serajin menunaikan ibadah sholat 5 waktu dan puasa setiap Senin dan Kamis. Kesehariannya, Ibu adalah wanita besar hati yang gemar berbagi pengalaman hidupnya dalam nasihat-nasihat sederhana.
Tangguhnya tak perlu diuji lagi. Begitu pula dengan kesabarannya yang tak pernah berhenti. Tak perlulah disebutkan apa-apa lagi, menghindari prasangka "jangan-jangan tulisan ini dibuat tidak dengan sepenuh hati."
Dipertengahan bulan ini, 21 tahun yang lalu aku lahir. Itulah mengapa, untuk aku Mei selalu berarti. Atas kecintaanku pada Ibu, semoga Mei kali ini punya arti lain untuk aku maknai. 

Lebih dari doa-doa egois yang aku panjatkan setiap hari, semoga aku berkesempatan memulai babak dua puluh satu dimana aku bisa membuat Ibuku bergembira hati.Setiap hari (:

Selamat bulan Mei untuk Astrini; diriku sendiri.

Dan Susilowati, pemilik peluk terdamai di dunia ini.
Yang coba aku sapa pertama kali setiap pagi,
dan balasan pesannya adalah apa yang aku sebut dengan energi.

Rabu, 25 April 2012

Untuk Adikku yang Pertama.


Jangan sakit, biar tetap asik dan irit. (: