Rabu, 02 Mei 2012

Marga Jaya

Bulan Februari yang lalu, saya, Wahy, dan Okta bertolak ke Lampung untuk melakukan survei lokasi KKN. Tulang Bawang Barat, sebuah kabupaten di Provinsi Lampung merupakan tempat yang kami pilih sebagai lokasi KKN kami, dimana selama 5 pekan dibulan Juli dan Agustus nanti kami akan belajar dan mengabdi kepada masyarakat dengan berpegang pada pengetahuan akademis dan ilmu sosial yang telah kami pelajari di bangku kuliah dan di kehidupan sehari-hari.

Setelah hampir 24 jam melewati perjalanan darat dan laut, akhirnya kami tiba di daerah yang disebut Unit 2, sebuah pintu gerbang dimulainya petualangan kami, dimana daerah ini merupakan tempat terakhir kami bisa menemukan mesin ATM. Pada waktu bis yang kami tumpangi tiba, Mas Ardi Wilda, atau yang lebih dikenal sebagai Mas Awe, seorang senior sangar yang sedang menjalani masa tugas Indonesia mengajarnya sekaligus perantara yang mengenalkan saya dengan Tulang Bawang Barat sudah menunggu bersama kawannya untuk menjemput kami. Setelah berbincang-bincang dan beristirahat sejenak, kami berangkat menuju tempat tinggal Mas Awe yaitu Kecamatan Gunung Agung. Sesuai bayangan dan foto-foto yang Mas Awe pernah kirimkan, jalan yang ditempuh terjal. Tanah merah, bebatuan, hutan karet di kiri dan kanan melambai-lambai, seketika menjelma menjadi  pemandangan.

Satu jam kemudian, kami tiba di rumah yang ditinggali Mas Awe. Sebuah rumah yang didominasi warna putih dan biru, sederhana, namun nyaman secara keseluruhan. Mbah Satinah sang pemilik rumah dan cucunya; Edi baik hati sekali. Hari pertama tiba, kami belum melakukan apa-apa karena kebetulan waktu itu hari Minggu, sehingga kantor-kantor yang ingin kami tuju tutup. Akhirnya, saya, Wahy, Okta, dan Mas Awe hanya merancang rencana untuk 3 hari kedepan. Berkat bantuan Mas Awe dan kawan-kawan Indonesia mengajarnya yaitu Mbak Meiske dan Mbak Acha, urusan kami dapat terselesaikan dengan baik.

Banyak hal menarik yang saya temukan diujung Provinsi Lampung ini. Salah satunya adalah sebuah sekolah dasar tempat Mas Awe mengajar di Kecamatan Gunung Agung; SD Marga Jaya, beserta anak-anak manis didalamnya. Karena hari tersebut hari Senin, saya mengikuti upacara bendera, dan itu mengasyikkan sekali.

Perbedaan besar yang saya rasakan dari jalannya upacara bendera di SD Marga Jaya dengan upacara yang saya jalani ketika saya masih sekolah di SD Endrakila Madiun adalah, dahulu, setiap Senin pemandangan wajib di sekolah saya itu adalah guru-guru dan penjaga sekolah yang sibuk lalu-lalang mempersiapkan upacara. Mulai dari papan-papan bertuliskan "Kelas 1" sampai "Kelas 6", speaker, microphone, keyboard, para petugas yang sudah dilatih, hingga tim paduan suara. Pukul 7 tepat, upacara dimulai.  Siswa-siswa yang tidak menggunakan atribut dengan lengkap dipisahkan dari barisan, membentuk barisan sendiri di sebelah kiri depan, dan semua mata bisa leluasa memandang siapa-siapa saja yang berjejer disana. Keteraturan tersebut berbanding terbalik dengan minat dan keseriusan para siswa untuk sekedar hormat ketika bendera merah putih dikibarkan, diam sejenak untuk mengheningkan cipta, apalagi menyimak apa yang dibicarakan pembina upacara. Para siswa perempuan sibuk menggosip, para siswa laki-laki entahlah sibuk melakukan apa dibarisan belakang.

Pukul 7 di SD Marga Jaya pagi itu masih lenggang dan belum terlihat persiapan apa-apa, jangankan keyboard untuk mengiringi paduan suara, satu microphone pun tak terlihat berdiri disana. Ketika upacara dimulai, masih banyak siswa yang telat dan langsung masuk barisan, banyak juga siswa yang tidak menggunakan topi atau dasi, terlepas dari beberapa siswa yang mungkin bandel dan tidak bisa diam, hal tersebut tidak menyurutkan keseriusan dan antusias para siswa untuk menyimak apa yang dibicarakan kepala sekolah sebagai pembina upacara yang dengan lantang dan berwibawa ketika memberikan sambutan. Keseriuasan tersebut dapat dilihat dari jawaban-jawaban kompak mereka ketika beberapa kali Bapak Kepala sekolah bertanya mengenai beberapa hal. Upacara diakhiri dengan acara tanam pohon dimana Wahy dan Okta menjadi bintang tamu. Haha.

Setelah acara tanam pohon, saya, Wahy, dan Okta ikut Mas Awe masuk kelas. Ketika saya melambaikan tangan dan mengajak ngobrol beberapa siswa, mereka menjawab dengan malu-malu-tapi-mau. Lucu sekali. Ketika Mas Awe mengajukan pertanyaan tentang pelajaran, para siswa berebut menjawab. Dan ketika Mas Awe mengajak melakukan tepuk, mereka semua langsung tambah bersemangat. Mata mereka bersinar ketika diberi waktu untuk bertanya mengenai cita-cita dan diberi tahu bagaimana cara menggapainya.

Saya selalu menyukai anak kecil. Dan saya senang sekali menghabiskan Senin pagi saya di SD Marga Jaya. Diantara anak-anak pembelajar yang rela berbagi buku pelajaran dengan teman, diantara anak-anak periang yang langsung berbinar matanya ketika dijanjikan belajar origami, diantara anak-anak lugu yang yang belum tersentuh www.facebook.com.


Semoga ada kesempatan untuk dapat bertemu Mitra, Ariq, Vicky, dan kawan-kawan yang lain lagi (:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar